ha22.. semester 5 coyy... nih keelihatannya n katanya bakal sibuk. Praktikum jurnalistiknya ada 3 (cetak, radio, ama tv). Walaupun bakal sibuk tapi enjoy coyy.. Ini yang kita nanti - nanti. Terjun langsung ke lapangan. Kita juga nanti nyobain lab audio visual yang cukup keren hee22... asyik - asyik. TEtep semangat.. teman2 semoga kalian menjadi para jurnalis yang baek dan berkualitas. Kata siapa mau jadi jurnalis. Orang mau jadi artis kok he22..

Heeiii... haa22.. udah lama gak nulis di sini eeuuyy.. Akhirnya nulis setelah kuliah udah masuk n pas bulan Ramadhan.. gimana pusanya cooyy... moga- moga lancar lahh.. walaupun kalau udah di kampus kadang godaan terlalu banyak hee22.. ( Heii para cewek... kalian membuat kita make me wanna hee22)
Yapp.. anyway.. semoga jihad kita ini dalam memerangi musuh kita yang paling besar yaitu hawa nafsu dapat berhasil dan akhirnya kita jadi muslim yang khafah amiinn... Met puasa dah..
Gambarr : http://www.geocities.com/dark_atras/7602117.jpg
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Secara garis besar dapat kita katakan bahwa organisasi itu merupakan sekumpulan orang yang bekerja sama untuk mencapai atau melakukan sesuatu dengan tujuan yang sama.
Jadi artinya kalau suatu organisasi punya tujuan ataupun kegiatan semuanya saling berkaitan satu sama lain. Karena entu yang namanya organisasi merupakan suatu sistem.
Nahh.. kadang – kadang dalam sebuah kegiatan ada yang sukses ada yang gagal. Nihh.. gak jauh – jauh. Ane kasih contoh yang gagal adalah fun bike dan jalan sehatnya UPN “V” tanggal 3 agustus 2008 yang lalu, ditambah lagi itu acara ada kerusuhannya he22.. malu – maluin yau. Kalau dari berita sih yang membuat kerusuhan karena hadiah yang dijanjikan ama panitia omong kosong. Katanya nih.. hadiahnya itu ada satu mobil, tiga sepeda sepeda motor, 12 ekor sapi, dua laptop dan ratusan hadiah lainnya. Tapi waktu pengundian, hadiah nyag gede – gede itu gak diikutin dalam pengundian. Wahh.. wahh.. kebohongan publik nihh.. Parahnya lagi, acara ini ternyata gak ada ijin dari pihak kepolisian. Tapi berhubung pesertanya udah banyak jadi acara tetap berlangsung. Padahal udah mau dibubarin polisi he22.. Kabarnya panggungnya dibakar coyy.. ama peserta lomba. HI22.. takuutt..
Dari pihak UPN sendiri katanya ini acara dipihak ketigakan (Panitia pelaksananya EO). Wahh... Berarti gak profesional nih EO-nya. Berarti kalau dalam hal ini secara management (he22.. sok - sokan) yang namanya proses perencanaan dan pengawasan kurang banget kali yakk... Dari segi perencanaan karena memberikan kepada pihak EO yang salah dan dari segi pengawasan karena pengawasannya mungkin kurang mendalam dan continue.
Kalau udah kayak gini yang kenak keseluruhan organisasi yang dalam hal ini adalah UPN “V” Yogyakarta. Lebih – lebih ini sudah diberitakan dan juga menyangkut citra dari kampus kita, aku dan ente – ente semua yang kuliah di sono hee22.. Seharusnya UPN sebagai lembaga yang besar dan harusnya profesional dan tidak kecolongan karena merupakaan sebuah civitas akademik dapat mengcreated sebuah acara dengan baik dan profesional pula. Ketika prinsip management dan dilakukan dengan baik mungkin ceritanya akan berbeda.
Sumber : www.Metro TV.com
Gambar : http://najwasandra.files.wordpress.com/2007/11/ngamuk.jpg :
Dalam pandangan dan mind set kita tentang artis adalah suatu predikat yang diidentikan sebagai seseorang yang terkenal, bergelimang harta, suka hura – hura, lekat dengan dunia malam, dan bebas dalam bergaul. Pandangan ini mungkin menjadi hal yang lekat dengan dunia keartisan kita saat ini walaupun tidak bisa kita pukul rata semuanya.
Fenomena yang cukup menarik adalah ketika artis yang sealu diedentikan dengan hal yang telah dipaparkan diatas terjun ke dunia yang sama sekali berbeda dari dunia keseharian mereka. Penulis mengibaratkan sebagai fenomena artis “turun gunung”. Mengapa? Karena jika kita lihat artis dikenal orang lain, dipuja, dan senang – senag dengan harta yang telah mereka raih dalam perumpamaan mungkin dipuncak gunung. Kini artis mau turun gunung menjadi politisi, wakil rakyat, ataupun kepala daerah. Sungguh menarik, karena hal itu memberi konsekuensi bahwa seorang artis akan menjadi representasi dari masyarakat dan pelayan masyarakat.
Jika kita melihat belahan dunia lain para artis juga ada yang terjun kedunia politik. Seperti Filipina, negara tersebut pernah dipimpin oleh seorang artis bernama Joseph Estrada dan seorang aktor film action bernama Arnold Alois Schwarzenegger menjadi Gubernur
Munculnya nama – nama artis untuk melaju dan bergelut di dunia yang keras dan penuh intrik ini yaitu politik, patut kita syukuri. Paling tidak ada dua hal yang cukup baik dalam dunia politik kita karena fenomena ini. Pertama, Karena ini mungkin menjadi salah satu jawaban dan alternatif atas tuntutan yang terjadi selama ini yaitu mengenai kepemimpinan baru dan muda. Karena masyarakat telah bosan dengan pemimpin lama yang tak kunjung memberi perubahan terhadap segala lini kehidupan masyarakat. Artis yang mencalonkan diripun sebagian besar berusia 40 tahun kebawah. Hal yang kedua adalah merubah pandangan tentang politik yang selama ini orang jarang mau belajar politik. Dengan adanya artis yang terjun ke dalam dunia politik, diharapakan para fans ataupun masyarakat mau belajar politik. Ini menjadi harapan yang penting, karena dengan belajar politik masyarakat mengerti apa yang harus dilakukan dengan haknya sebagai warga negara dan tidak mudah terombang – ambing oleh permainan politik.
Menurut salah satu survey yang dilakukan oleh salah satu
Deddy Mizwar (26,3 persen)
Dede Yusuf (19,8 persen)
Rano Karno (14,1 persen)
Tukul Arwana (5,7 persen)
Adjie Massaid (4,7 persen)
Lain-lain (29,4 persen)
Dari beberapa nama tersebut dapat kita lihat bahwa masyarakat memiliki kearifan sendiri saat memilih artis untuk menjadi pemimpin mereka. Nama seperti Deddy Mizwar adalah artis besar yang cukup senior dan karya – karyanya syarat dengan pesan moral dan penuh makna kehidupan, lalu ada Dede Yusuf dan Rano Karno yang sebelumnya memang pernah merasakan kursi senayan (DPR) dan selama berkarir ketiga artis ini lebih sering berperan sebagai tokoh protagonis. Artinya masyarakat memilih tidak berdasarkan kepopuleran semata akan tetapi juga berdasar track record artis tersebut.
Di masyarakat sendiri muncul pertanyaan mengenai kapabilitas artis tersebut. Apakah mereka benar – benar mampu menjadi politisi atau wakil rakyat? Apakah mereka dipinang oleh partai karena popularitas semata? Faktor popularitas memang sangat penting apalagi bagi yang mencalonkan diri untuk maju menjadi anggota DPR atau Kepala Daerah. Dengan predikat artis yang sering muncul di media memudahkan mereka saat mengenalkan diri dan berkampanye dan juga menghemat ongkos kampanye.
Fenomena ini cukup menarik. Di alam demokrasi ini siapa saja boleh menjadi pemimpin rakyat bahkan seorang artis. Alangkah baiknya jika para artis yang mencalonkan diri itu belajar dulu di partai politik sebelum mereka benar – benar menjadi calon legislatif ataupun kepala daerah. Dengan seperti itu kita akan melihat bagaimana track recordnya. Masyarakat saat inipun sudah lebih arif dalam memilih.
Gambar : http://dennybaonk.multiply.com/journal/item/180:
HP atau Hand Phone merupakan salah satu teknologi yang sangat dekat dengan kita saat ini. Menurut Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), pengguna HP di Indonesia sudah mencapai 80 Juta orang pada tahun 2007 dan akan terus meningkat. Tengoklah isi kantong atau tas mahasisiwa, pasti sebagian besar membawa barang mini nan hebat bernama Hand Phone.
Dalam kehidupan sehari – hari HP menjadi alat yang penting. Mulai dari fungsi komunikasi (telepon, sms, video call) , menyimpan data penting (no. ATM, catatan penting), hingga sampai saat ini HP bisa digunakan untuk berinternet ria.
Keunggulan HP dari alat komunikasi lain adalah karena HP berukuran kecil dan kita bisa gunakan secara mobile. Alat ini sungguh cocok bagi kebanyakan masyarakat kita saat ini yang terus bergerak secara dinamis dan membutuhkan keefektifitasan dan keefisienan. Dulu kita mengucapkan selamat kepada orang lain dengan bentuk kartu tetapi sekarang cukup dengan HP yang memiliki layanan SMS. Apalagi sekarang harga kartu perdana atau pulsa sangat murah karena saat ini perang tarif sangat gencar. Ditambah lagi layanan internet sudah tersedia dalam HP. Dengan begitu orang dapat melakukan apa saja ataupun tahu apa saja dengan HP tanpa harus bepergian. Karena Internet memungkinkan kita untuk berinteraksi atau bertransaksi secara maya dan menggali informasi dengan sangat luas tanpa ada batas teroterial serta up to date.
Konsekuensi yang mungkin secara tidak langsung kita rasakan adalah berkurangnya rasa emosional kita terhadap sesama. Ini disebakan karena kita tidak berinteraksi secara langsung dan melihat secara nyata. Jika dulu kita ingin bertemu dengan rekan – rekan, kita harus menempuh jarak dan waktu, yang mungkin dalam hal ini ada proses perjalanan yang di dalamnya kita bisa melihat lingkungan sekitar dan bertemu dengan orang lain. Sekarang proses yang yang membutuhkan waktu dan jarak tersebut tidak dibutuhkan lagi.
Salah satu guru SMA saya menolak menggunakan HP, beliau berkata bahwa HP mengganngu privasinya dan itu hasil karya orang kapitalis yang sebenarnya memperbudak kita. Jika dipikir lebih jauh memang benar apa yang dikatakan beliau, bahwa HP terkadang mengganggu privasi kita, karena kebanyakan dari kita menghidupkan HP 24 jam dan panggilan dapat langsung kita terima dimana saja kita berada. Untuk masalah memperbudak, memang benar dan sudah terjadi cukup lama karena Teknologi pasti selalu berinovasi dan jika kita tidak mengikutinya, malah kita yang sulit berkembang di jaman globalisasi ini.
Dalam hal lain ternyata terjadi penurunan minat baca oleh kalangan remaja kita. Menurut data majalah Komputer Aktif (no. 50/26 Maret 2003) berdasarkan survei Siemens Mobile Lifestyle III menyebutkan bahwa 60 persen remaja usia 15-19 tahun dan pacaremaja lebih senang mengirim dan membaca SMS daripada membaca buku, majalah atau koran.Walaupun menurut Pak Afifi (Dosen PTK kita) tidak pernah ada peningkatan minat baca karena budaya / jaman membaca tidak pernah benar – benar kita rasakan dan langsung beranjak ke jaman dengar dan lihat. Survei lainnya menyebutkan menurut data Kompas (4 April 2003) yang melakukan street polling yang dilakukan pada 100 remaja SMU di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Semarang bahwa sebesar 73 persen remaja mengeluarkan biaya untuk membeli voucher perbulannya seitar 100-200 ribu, 9 persen antara 201-300 ribu dan 8 persen lebih dari 300 ribu perbulan. Ini artinya bahwa di samping menurunkan minat baca, HP juga mengarahkan masyarakat untuk hidup konsumtif. Bahkan menurut data dari penelitian “Survei Siemens Mobile Phone” 58 persen orang ndonesia lebih memilih mengirim SMS daripada membaca buku, (Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, 191-192, 2005).
Dalam Penelitian kesehatan di Amerika membuktikan bahwa kaum pria yang membawa HP di saku celana dapat menurunkan 70 persen produktivits sperma dan lebih parah lagi sperma yang dihasilkan tidak akan dapat membuahi sama sekali alias mandul karena telah rusak akibat radiasi yang dipancarkan oleh HP yang ditaruh di saku celana, (www.kompas.com). Alangkah baiknya HP kita taruh di Tas atau jauh dari organ vital. Penelitian lainnya di Finlandia membuktkan bahwa radiasi elektromagnetik serupa ponsel selama satu jam dapat mempengaruhi produksi sel. Kuatnya pancaran gelombang dan letak HP yang menempel di kepala akan mengubah sel-sel otak hingga berkembang abnormal dan potensial menjadi sel kanker (Kompas,23 Oktober 2002 dalam Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, 197, 2005) Tapi ini terjadi jika kita terlalu sering menggunakan HP. Baiknya saat menelopon jangan langsung kita tempelkan ketelinga kita, tunggu sampai panggilan diangkat atau diterima.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk menakut – nakuti ataupun memberi pandangan miring terhadap HP. Alangkah baiknya kita menggunakan segala sesuatu dengan bijaksana dan jangan berlebihan. Segala sesuatu yang terlalu sedikit ataupun berlebihan pastilah tidak bagus. Termasuk dalam penggunaan HP.
Sumber :
1. Hilda Damayanti/153050001 hildadamayanti@yahoo.com/hild4.wordpress.com
2. www.kompas.com
3. www.okezone.com
Kalau jaman baheula mah.. kita mulai dari piringan hitam gede, terus pakek kaset, terus pakek CD, terus sekarang pakek MP3 (he2.. terus – terus aja kayak tukang parkir). Kalau dulu dengerin musik pakek tape atau pakek walkman yang kadang segede batu sekarang cukup pakek Ipod yang designnya lebih imut dan menarik.
Fenomena saat ini yang saya rasakan karena perkembangan teknologi adalah saya lebih sering mendengar musik dengan MP3 dari pada dengan menggunakan CD atau kaset. Padahal MP3 sebagian besar adalah bajak hee22.. peace yau para musisi. Ane dan ente – ente pasti mengakui bahwa pakek format MP 3 lebih murah dan bisa memuat banyak lagu. Kita juga lebih sering dowmload lagu dari internet. Di internet sering kita mendapatkan lagu yang kita inginkan dengan gratis tanpa harus membayar. Sebenarnya itu sebuah kejahatan yang sangat menyakitkan untuk para musisi yang telah susah payah membuat lagu. Kelihatannya ini merupakan salah satu pelanggaran besar dalam hal hak kekayaan intelektual.
Dari fenomena ini, membuat kaset atu CD asli jarang dibeli ama masyarakat kite nihh.. Bisa dikatakan para musisi mengalami penurunan pendapatan. Tapi jangan kuatir untuk para musisi. Karena trend yang ada saat ini yaitu adanya fasilitas NSP atau Nada Sambung Pribadi atau Ring Back Tone (RBT). Katanya sih.. pakek NSP lebih untung dari pada produksi kaset atau CD. Karena dengan pemakaian NSP pembagian royalti lebih jelas. Menurut Jusak Iwan S (Direktur Pengelola Warner Music Indonesia) NSP memberikan sumbangan 60% bagi perusahaannya. Keuntungan RBT sekitar 1 : 5. Ambil contoh aja Vagetoz yang baru menjual 150.000 kopi RBT-nya udah 3.000.000. Pola bagi untung ada yang 50 : 50, ada yang ambil Rp 500,00 atau Rp 1.000,00/ NSP. Para musisi maupun artis mulai memikirkan tidak memproduksi kaset ataupun CD. Contohnya Ivan Gunawan, ame lagunya yang judulnya (Ijah) Jangan Gila Dongg.. katanye dia g bakalan produksi kaset atau CD. Tapi kalau NSP sihh oke.
Kalau dilihat – lihat dan diprediksi sepertinya NSP akan jadi primadonya para musisi niihhh..Tapi kalau di Singapura ama Taiwan NSP udah g jaman hee22.. ketinggalan lagi yak kitaa...
Sumber : http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=7588&pageNum=4

